06 Feb
447

UIN Banten Gelar Gerakan Moderasi Beragama Dalam Pembinaan Pegawai  

 

 

HumasUIN - Sebagai pemicu semangat moderasi beragama, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten sukses menggelar Pembinaan Pegawai dengan tema “Moderasi Beragama”, gelaran tersebut diikuti sejumlah pegawai Struktural dan Dosan di lingkungan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Kamis, (6/2).

Pembinaan pegawai yang pertama digelar pada tahun 2020 ini, Rektor mengundang tokoh Nasional Prof. Dr. Azumadi Azra, M.A dan penulis buku Hijrah dari Radikal ke Moderat Haris Amir Falah. Dalam sambutanya, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Prof. Dr. H. Fauzul Iman M.A menuturkan, pengusungan tema moderasi beragama dibentuk seiring dengan program yang sedang digalakkan Kementerian Agama terkait pembuatan Rumah Moderasi di PTKIN.

“Waktu dekat, bersamaan pembangunan Fakultas Ushuluddin dan Rektorat di Kampus dua, kita juga akan sekaligus membuat tempat untuk Rumah Moderasi yang nantinya akan digagas oleh agen-agen instruktur moderasi beragama. Oleh karena itu, kita undang tokoh nasional yang pakar di bidangnya,” tuturnya.

Rektor juga berharap, gerakan moderasi beragama harus dilakukan mulai dari lingkungan kampus yang kemudian kepada mahasiswa dan masyarakat sekitar. “Lingkungan akademik harus menjadi mercusuar semangat moderasi beragama, dan Alhamdulillah sampai saat ini di lingkungan UIN Banten ini belum ada pegawai yang terpapar radikalisme,” paparnya dalam membuka acara tersebut.

Sesi pembicara pertama, penulis buku Hijrah dari Radikal Ke Moderat itu menuturkan pengalaman masa lalunya ketika ia aktif terlibat dalam gerakan terorisme. Menurutnya, yang menarik dari radikalisme itu berawal dari masalah akidah, di mana negara harus berdasarkan hukum islam, sampai implikasinya penegakkan Negara Khilafah. Untuk mencapai target tersebut maka harus dilakukan dengan jihad global.

“Saya aktif di berbagai organisasi jihadis mulai dari 2010 dimana saat itu begitu gampang menyebut orang lain kafir. Karena para prinsipnya, jika sudah tidak menggunakan hukum Allah SWT. Negara manapun yang tidak menggunakan hukum Islam itu kafir, pejabat negara sampai tingkat RT itu semua kafir. Tapi itu dulu. Setelah sadar, ternyata saya salah dalam beragama. Karena dalam prinsip al-Qur’an, pandangan yang ada justru tawasuth (moderat-red),” paparnya.

Sementara pembicara pamungkas, Azumadi Azra menghimbau pentingnya smile islam atau dengan kata lain islam santun. Hal itu dikatakannya sesuai dengan titah dari Nabi sendiri. Selain itu, ia juga menuturkan bahwa institusi pendidikan ini perlu adanya kerjasama dengan ormas islam wasathiyah yang bergerak untuk pemberdayaan masyarakat dalam bidang dakwah, pendidikan, kesehatan, penyantunan sosial dan ekonomi.

“Gerakan moderasi beragama ini harus dimulai dari para dosen dan pegawai. Baru kemudian bisa membentuk benteng yang kokoh dalam semangat bermoderasi,” pungkasnya. (Salim/Humas)