06 Jan
431

LP2M Lepas Kukerta Kolaborasi Tahap 2

Humasuin - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten hari ini melepas dua mahasiswanya dalam rangka mengikuti Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Kolaborasi Tahap 2 yang dilaksanakan diruang rapat rektor. Kegiatan yang mengangkat tema Membangun Keharmonisan (Peace Building) ini dihadiri Wakil Rektot I Bidang Akademik dan Kelembagaan, Ketua LP2M, Ketua Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPM), Wakil Dekan III Fakultas Syariah, Wakil Dekan I Fakultas Bisnis dan Ekonomi Islam, dan Kasubag LP2M.

Wazin Baihaqi, Ketua LP2M mengatakan, berdasarkan surat tugas dari LP2M, dua mahasiswa yang mengikuti kukerta ini merupakan mahasiswa pilihan hasil seleksi dari beberapa mahasiswa yang mendaftar. Mereka merupakan mahasiswa berprestasi dibidangnya dan sudah mengharumkan nama kampus UIN Banten dikancah nasional.

Dia mengatakan, selama kurang lebih 40 hari nantinya mereka akan ditempatkan didaerah 3D yaitu Terluar, Terjauh dan Terdalam yang berada di Kecamatan Sulamu, Kabupaten kupang, Nusa Tenggara Timur. "Disana mereka tergabung dengan beberapa mahasiswa lain dari PTKIN seluruh Indonesia dan akan membaur dengan masyarakat untuk membantu dan memberi solusi atas permasalahan yang terjadi disana," ungkapnya.

Wakil Rektor I, Ilzamudin mengatakan mahasiswa memang sudah waktunya untuk turun kelapangan dan mempraktekkan apa yang sudah didapat di kelas. Bagaimana mahasiswa mampu menyalurkan ilmu yang didapat dikelas dengan turut langsung mendengar keluh kesah dan keinginan masyarakat.

Dua mahasiswa UIN Banten yang menjadi peserta Kukerta Kolaborasi Nusantara, yakni Waode Urwatun Wutsqo dari Fakultas Syariah dan Alif Abdul Jabbar dari FEBI. Tak hanya dibekali materi membangun keharmonisan, dalam pelepasan ini mahasiswa dibekali metodologi Asset Based Community Development (ABCD) di dalam masyarakat Sulamu, Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Masykur, Kepala PPM, mengatakan “membangun keharmonisan” merupakan satu keharusan dalam bermasyarakat, karena perbedaan dan keragamaan adalah rahmat. Perbedaan agama atau keragaman adat istiadat di Nusantara juga merupakan kekayaan aset bangsa dan negara. Namun, percikan api konflik sebab perbedaan paham pun tak dapat dihindari di beberapa daerah. Oleh sebab itu, teori membangun keharmonisan tak hanya dipahami di ruang kelas tertutup.

"Kukerta memberikan ruang praktik membangun keharmonisan di dalam publik masyarakat Sulamu, Kupang, NTT. Diharapkan dengan praktik membangun keharmonisan dalam ragam agama dan adat istiadat masyarakat Kupang, NTT, mahasiswa mampu berbaur kolaboratif bersama masyarakat secara sinergis untuk peradaban masyarakat NTT yang mandiri dan sejahtera," ungkapnya.