13 Agu
207

KKN 74 UIN Banten Daur Ulang Sampah Plastik Menjadi Paving Block

HumasUIN - Sampah merupakan material sisa yang dibuang sebagai hasil dari proses produksi, baik itu industri maupun rumah tangga. Sampah juga merupakan sesuatu yang tidak diinginkan oleh manusia setelah proses penggunaannya berakhir. Akan tetapi, tidak demikian dengan mahasiswa-mahasiswi KKN 74 UIN Banten, justru mereka semua mendaur ulang sampah plastik menjadi paving block, Senin (12/8/2019).

Sekertaris umum KKN 74 UIN Banten, Alsri Nurcahya mengatakan, material sisa yang dimaksud adalah sesuatu yang berasal dari manusia, hewan, ataupun tumbuhan yang sudah tidak terpakai, adapun wujud dari sampah tersebut bisa dalam bentuk padat, cair, maupun gas.

"Pembuatan paving block dari pengolahan daur ulang sampah plastik ini berawal dari pemikiraan kritis bapak-bapak dan pemuda yang bertempat tinggal di Desa Lebak Parahiang, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Banten, yang mana mereka memiliki hobi yang sama, yaitu bermain sepak bola di lapangan. Namun, melihat keadaan lapangan yang dipenuhi sampah plastik hal tersebut membuat mereka kewalahan karena setiap kali hendak main, mereka harus memunguti dan membersihkan lapangan terlebih dahulu dari sampah plastik yang berserakan, maka dari itu mereka berpikir keras harus diapakan sampah-sampah tersebut, timbul lah ide pembuatan paving block tersebut yang mana ide ini berasal dari pemikiran Bapak Asep (Warga Desa Lebak parahiang)," tuturnya.

Pada dewasa ini, Alsri menjelaskan, sampah merupakan hal yang lumrah untuk diperbincangkan, seperti buang sampah sembarangan, banjir akibat sampah, sampai daur ulang sampah yang kini sudah banyak dilakukan diberbagai tempat.

"Pembuatan paving block ini menggunakan semua jenis sampah plastik, seperti kantong kresek, botol bekas, peralatan rumah tangga yang rusak, dan lain sebagainya, kecuali alumunium foil yang mana pembuatannya pun masih diolah secara manual menggunakan alat seadanya," katanya.

Proses pembuatannya, Alsri memaparkan diawali dengan pelelehan sampah plastik yang dimasukkan ke dalam drum yang dipanaskan dengan tungku kayu. Proses pelelehan sampah plastik tersebut memakan waktu sekitar satu jam setengah, hingga sampah tersebut benar-benar meleleh kemudian diberi sedikit pasir agar paving block bisa lebih padat dan keras.

"Adapun proses pencetakan dilakukan dengan menggunakan papan kayu yang berbentuk balok. Lelehan plastik yang sudah tercampur dengan pasir dituangkan ke dalam cetakan tersebut, lalu di tekan hingga padat. Setelah padat, paving block tersebut dicelupkan kedalam air agar mengeras kemudian diangkat hingga proses pengeringan dengan menggunakan cahaya matahari," ujarnya mengisyaratkan.

Alsri mengaku, pembuatan paving block ini berawal pada bulan desember pada tahun 2018, yaitu di rumah bapak Umbara (38), kemudian membuka tempat baru di rumah bapak Bungsu (41).

"Paving block ini sudah bisa digunakan sejak bulan maret lalu, sekitar 500 meter. Karena kekurangan bahan sampah, maka kami berkolaborasi membuat bank sampah, dengan cara membagikan kantung sampah ke agen-agen dan warung-warung kecil untuk mengumpulkan sampah plastik," ucapnya.

Harga untuk setiap meter paving block ini, Alsri memasok harga dari Rp.120.000, yang mana paving block tersebut bisa diperjual belikan dan bisa menerima pesananan, hanya saja untuk waktu dekat ini, paving block tersebut belum bisa diproduksi kembali.

"Karena kurangnya sampah plastik dan proses pembuatan masih menggunakan alat seadanya, sehingga memakan waktu cukup lama, walaupun masyarakat umumnya sudah banyak yang melakukan pendauran ulang sampah khususnya untuk sampah plastik, seperti tas, bunga hiasan, bingkai, hingga pembuatan paving block dari pengolahan daur ulang sampah plastik," katanya.