14 Mar
395

Gelar Studium Generale, UIN Bergerak Hadapi Revolusi Industri

Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten menggelar studium generale, dengan bertajuk Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan 4.0 Revolusi Industri. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Aula Rektorat UIN SMH Banten, Selasa (26/2/2019).

Wakil Rektor I Bidang Akademik Ilzamuddin Ma’mur mengatakan, ada hal-hal yang tidak bisa dipenuhi untuk membuka S3. Hal itu dikarenakan kekurangan sumber daya manusia (SDM). “Mudah-mudahan Direktur PTKIN bisa ikut mendorong. Kalau kita membuka pasca 3, kami kekurangan dosen. Kami ingin bergerak mengikuti UIN Jakarta. Semoga cita-cita, dan keinginan bisa terwujud,” tuturnya, Selasa (26/2/2019).

Dia mengatakan, tema ini menarik, revolusi industri, ke depan pengajaran di kelas semua menggunakan sistem digitalisasi. Dia menjelaskan, ada 10 poin ketika ingin bergerak ke arah revolusi industri. Di antaranya, seperti melakukan perubahan kurikulum, yang tentunya dengan digital, melakukan pelajaran dengan jaringan.

“E-learning yang nanti ingin dibangun, semua sistem akan mengarah ke sana. Pendidikan efektif harus berjalan seimbang, dengan teknologi dan keterampilan. Hal itu sangat perlu dipertimbangkan,” tuturnya.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama M Arskal Salim yang hadir sebagai narasumber menuturkan, revolusi industri memang terjadi saat ini. Hal itu merupakan suatu keadaan, tapi yang menjadi prioritas adalah aktor-aktor yang berada di situasi ini. Globalisasi menyebabkan arus yang begitu cepat, dan tidak dapat dibendung, serta begitu banyak dan beragam arus informasi.

“Manusia tidak bisa berhenti, dan otomatis harus melanjutkan situasi ini. Dan pertanyaannya adalah, bagaimana kita yang hidup di era ini, bagaimana generasi dan regenerasi berlangsung,” ucapnya.

Arus informasi tersebut, kata dia, tidak hanya berpengaruh terhadap pengetahuan. Ke depan pada tahun 2045 akan ada generasi emas. Bagi yang usia kisaran 25 tahun, mereka adalah orang-orang yang akan dipersiapkan untuk menjadi pemimpin untuk menandingi negara-negara di dunia.

“Kita yang bergerak di dunia Islam harus memahami hal ini. Maka ketika nanti ingin memberi edukasi, maka harus punya strategi. Saya berharap mahasiswa pascasarjana mau beradaptasi dengan hal tersebut, walau agak kaku,” ujarnya.

Dia menjelaskan, nanti akan ada zamannya recording, ada studio rekaman, dosen-dosen membuat rekaman terkait mata kuliah. “Jadi ketika mahasiswa tidak datang, maka bisa mendengarkannya. Itu sangat bermanfaat, apalagi sekarang yang kita lihat, semuanya direkam dengan jejak digital. Atau tidak perlu lagi buat makalah, buat saja dengan slide-slide. Dan dengan ini harus siap,” ucapnya.

Tantangan pendidikan Islam di zaman sekarang, kata dia, adalah kecenderungan integrasi ekonomi, fragmentasi politik, penggunaan teknologi tinggi, interdependensi, dan munculnya penjajahan baru dalam bidang kebudayaan. “Kita harus mengambil peluang-peluang strategis, dalam melakukan dakwah islamiyah yang ramah, toleran, dan damai,” tuturnya.