11 Mei
988

Pembinaan Pegawai Usung Tema Islam Nusantara

Sudah menjadi kegiatan rutin bulanan yang dilakukan jajaran pimpinan IAIN SMH Banten untuk menyelenggarakan pembinaan pegawai. Pembinaan pegawai pada Selasa (19/01) disampaikan oleh Guru Besar Sayid Agil Siradj yang juga menjabat Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Dalam ceramahnya, Kiyai Siradj mengupas tema Islam Nusantara,  tema tersebut merupakan suatu hal yang perlu disampaikan terkait berkembangnya wabah disintegrasi bangsa dan munculnya gerakan-gerakan radikal yang membungkus dengan nama Islam.
Dalam pembahasannya, Kiyai memaparkan bahwa Islam turun ke bumi membawa misi yang penuh dengan misi kemanusiaan, misi ketakwaan, yang di-sampaikan melalui utusan-utusanNya diantaranya Rasulullah Muhammad SAW. Salah satu indikasi bahwa misi agung tersebut Rasulullah selama 13 tahun di Mekkah di sekitar Masjidil Haram tidak pernah mengatakan kepada sahabat untuk mengusir berhala, yang artinya ketika nabi shalat menghadap kiblat disitu pula nabi menghadap berhala-berhala yang berada di atas Ka’bah. Setelah nabi hijrah ke Yatsrib, nabi pun mendapatkan masyarakat Yatsrib yang plural, terbuka, dan senang dengan kedatangan kaum muhajirin, keterbukaan penduduk Yatsrib atau dikenal dengan kaum Anshar hingga pada level penguasa, mereka rela berbagi kekuasaan kepada muhajirin, namun demikian Rasulullah SAW memperhatikan pluralisme yang terdapat pada kota Yatsrib itu dengan menyatukan visi dan misi kemudian membentuk satu komunitas yang disebut madani dan dikenal dengan madaniyah yang kini menjadi sebuah nama kota suci Madinah Almunawwaroh.
Lima belas abad yang lalu keberhasilan Rasulullah dalam membentuk sebuah komunitas madani di kota Yatsrib tersebut merupakan sebuah gagasan yang telah didasari dengan sebuah dasar agama, bukan suku maupun etnis. “Nabi Muhammad sudah memiliki platform dalam membangun komunitasnya bukan platform Din, Bukan platform suku atau etnik tapi platformnya tamadun bagaimana membangun sebuah komunitas yang beradab yang berperadaban yang berbudaya, sejahtera, yang berkeadilan, 15 abad yang lalu belum ada PBB, belum ada nasionalisme, setelah itu Nabi Muhammad menyebarkan gagasan tamadun dimulai dengan seluruh bangsa Arab dulu selesai rasulullah wafat, ketika Fathul Makkah menguasai kota Makkah tahun 8 Hijriyah bulan Ramadhan orang makah dimaafkan” demikian kata Kiyai Siradj.
Di Indonesia, terdapat berbagai macam bukti pesan-pesan agama yang kemudian menjadi simbol-simbol budaya Islam Nusantara sebagaimana yang terdapat pada bentuk-bentuk bangunan Masjid. Di Pulau Jawa, terdapat beberapa bentuk rancang bangun Masjid yang tidak lepas dari simbol-simbol budaya lokal, misalnya bentuk kubah, menara yang disinyalir merupakan adopsi dari peradaban lokal dimana Islam mampu melebur kedalamnya. begitu juga falsafah dari sebuah menara, yang merupakan entitas dari ajaran majusi, “Artinya islam melebur dengan budaya asalkan budaya tidak bertentangan dengan syariat, selama budaya tidak bertentangan dengan ajaran islam, islam dapat melebur” katanya.
Kiyai Siradj juga mengingatkan terhadap gerakan-gerakan yang tidak mengedepankan persatuan bangsa agar konsisten, untuk menjaga nilai-nilai rahmatan lil’alamin. Diakuinya, akhir-akhir ini tidak sedikit gerakan yang yang tidak nasionalis.
Sementara itu Rektor dalam sambutannya memaparkan bahwa  pembinaan pegawai yang dilaksanakan sekali  setiap sebulan merupakan tradisi yang sering dilakukan, beberapa tokoh nasional pernah didatangkan sebagai upaya penyegaran dan pengarahan untuk dapat meningkatkan silaturahmi sesama pegawai di tengah-tengah perbedaan yang bisa saja terdapat pluralisme pemahaman latar belakang organisasi. Rektor mengingatkan Pemahaman Islam Nusantara bukan suatu masalah yang spektakuler, akan tetapi sebuah pemahaman yang sudah terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia, misalkan membayar zakat dengan beras, kemudian media dakwah Walisongo dengan menggunakan wayang yang pada jamannya merupakan tradisi Majapahit, begitu juga di Kudus, tidak ada muslim yang berkurban dengan Sapi, karena sejak jaman penyebaran Islam penyembelihan sapi dapat menyinggung keyakinan ummat Budha.
“Allah juga mengajarkan Islam nusantara, Allah subhanahu wa ta’ala itu sebetulnya menurunkan firman itu sesuai konteks Nusantara, saat itu nusantara arab, maka Allah mendesain qur’an juga dalam bentuk bahasa arab, Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa manusia itu mesti melakukan pluralisme; bermasyarakat bercampur-baur, karena jika hanya seseorang semata itu tidak mungkin bebas untuk bertemu Tuhan dan ini adalah penting sekali untuk melakukan campur Baur itu dan dengan persatuan itu manusia bisa menolak bencana maka persatuan menangani persoalan merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan untuk membangun kedamaian Islam” demikian tambahnya.